Rabu, 17 Juni 2015

Press Release PKMFE 2015


Oleh : Rizki Sutikawati
(Kelompok 11 H.O.S. Tjokroaminoto)


Pelatihan Kepemimpinan Mahasiswa Fakultas Ekonomi 2015 dilaksanakan pada tanggal 12-14 Juni 2015 bertempat di Puncak, Bogor. Rangkaian acara PKMFE 2015 terdiri dari briefing, pra dan pas PKMFE. Ketiga rangkaian tersebut dilaksakan pada hari yang berbeda.
Briefing PKMFE dilakukan di gedung Adm, UNJ. Dalam acara briefing tersebut dilakukan sosialisasi mengenai peraturan-peraturan selama PKMFE 2015 yang disampaikan oleh panitia KDSP. Selanjutnya pada briefing tersebut juga dilakukan pembagian kelompok mahasiswa yang terdiri dari tiga jurusan yaitu akuntansi, management, dan ekonomi administrasi.
Setelah pelaksanaan briefing, minggu berikutnya dilaksanakan pra PKMFE 2015. Pada pra PKMFE 2015 terdapat tiga pembicara yang akan menyampaikan materi. Ketiga pembicara tersebut adalah Kak Ferly Ferdyant, Kak Yusuf, dan Kak Robby. Materi yang pertama disampaikan oleh Kak Ferly Fedyant yang menyampaikan materi dengan judul “Menjadi negosiator Handal”. Dalam materi tersebut Kak Ferly menjelaskan tentang pengertian negosiasi, bagaimana menjadi seorang negosiator, dan proses negosiasi. Negosiasi adalah suatu proses berunding untuk menetapkan suatau kesepakatan. Seorang negosiator yang handal harus memiliki sifat percaya diri, terpercaya, menguasai substansi materi, dan menguasai teknik komunikasi. Proses dari negosiasi terdiri dari persiapan, pembukaan, memulai proses (proposing, listening), dan tawar menawar.
Materi selanjutnya adalah “Manajemen Advokasi Sosial” yang disampaikan oleh Kak Yusuf. Advokasi berarti membela, memajukan, merubah, mengemukakan dan menciptakan. Advokasi juga berarti mempengaruhi dan mendesak terjadinya perubahan dalam kebijakan publik.  Advokasi perlu dilakukan karena adanya ketidakadilan, ada orang yang tidak mampu, dan publik butuh fasilitator perubahan.
Materi terakhir disampaikan oleh Kak Robby mengenai dunia pendidikan yang ada di Indonesia. Kak Robby memaparkan mengenai dunia pendidikan saat ini yang terjadi di Indonesia. Lalu dalam kesempatan itu mahasiswa diberikan waktu untuk berdiskusi kelompok mengenai permasalahan-permasalahan pendidikan di Indonesia.
Acara inti pas PKMFE 2015 dilaksanakan tanggal 12-14 Juni 2015. Pertama- tama para peserta dikumpulkan di teater FE UNJ untuk pemeriksaan kelengkapan barang bawaan individu dan kelompok. Lalu ada pemberian amanah oleh KDSP untuk dijaga selama tiga hari. Setelah itu para peserta diperbolehkan untuk berangkat masing-masing perkelompok menuju villa setelah diberi tahu rute perjalanan oleh panitia.
Para peserta melakukan perjalanan menggunakan kereta api menuju Stasiun Bogor lalu melanjutkan perjalanan dengan menggunakan angkot. Sesampainya di villa para peserta dikumpulkan kembali untuk mengumpulkan barang bawaan individu dan kelompok.
Dalam rangkaian pas PKMFE terdapat dua pembicara yaitu Kak Rizal Dharma dan Kak Abdi. Kak Rizal menyampaikan materi mengenai management aksi. Beliau menjelaskan mengenai tata cara dan kelengkapan dari sebuah aksi. Lalu para peserta diberikan kesempatan untuk melakukan simulasi aksi.
Materi berikutnya adalah urgensi kaderisasi disampaikan oleh Kak Abdi. Kaderisasi diperlukan sebagai cara untuk menemukan bibit-bibit unggul sebagai penerus dari generasi yang telah ada. Kaderasasi juga bertujuan unutk membentuk karakter seseorang.
Selama rangkaian pas PKMFE 2015 peserta diberikan amanah secara bergantian menjaga telur puyuh dan menuju KDSP saat sirene dibunyikan. Pada akhir acara mahasiswa masih harus menjalankan hukuman bending atas kesalahan yang telah diperbuat. Karena memakan waktu cukup banyak maka panitia mengganti hukuman bending dengan menugaskan oeserta mebuat press release rangkaian PKMFE 2015 sebagai syarat kelulusan dan menebus kesalahan.


Kamis, 11 Juni 2015

Mahasiswa dan Tridharma Perguruan Tinggi

Oleh: Muhammad Ariq Fauzan Hakima

Pada zaman globalisasi seperti sekarang ini, banyak pergeseran makna dalam penggunaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Semakin banyaknya pengaruh dari dunia barat membuat para pemuda di Indonesia merasa lebih hebat jika mereka mengikuti paham-paham yang digunakan dalam dunia pendidikan di Negara Adidaya tersebut. Padahal jika dipahami secara mendalam, makna yang terkandung didalam Tri Dharma Perguruan Tinggi sudah mencakup semua segi kehidupan seperti Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian dan Pengembangan, serta Pengabdian kepada masyarakat.
Sebagai contoh dalam penerapan Pendidikan dan Pengajaran, dalam perguruan tinggi sudah memberikan Pengajaran yang bukan hanya terdiri dari materi kuliah di kelas, tetapi juga pendidikan karakter yang sebenarnya sudah dimulai saat usia anak-anak. Tetapi segi pelaksanaan dari mahasiswa dalam penerapan pendidikan karakter untuk kemajuan pendidikan di suatu perguruan tinggi tersebut yang harus dikembangkan untuk kemajuan bangsa. Selain itu mahasiswa juga diharuskan untuk mengikuti kegiatan kampus seperti UKM maupun Ormawa yang sudah jelas memiliki pengajaran dalam jiwa kepemimpinan.
Pengaruh dari luar yang buruk dapat merusak niat kita sebagai mahasiswa dalam menuntut ilmu. Oleh  karena itu, sebagai mahasiswa Indonesia yang menjadi penerus bangsa perlu dibuat adanya kegiatan yang bermanfaat seperti yang sudah dijelaskan tadi. Selain itu bagi mahasiswa yang memilih jurusan kependidikan diharuskan untuk mengikuti Program Pengalaman Lapangan yang sekaligus menjadi tenaga pengajar di suatu sekolah selama kurang lebih 3 bulan  untuk memberikan ilmu yang sudah dikuasai dalam perkuliahan. Karena mahasiswa inilah yang akan menjadi seorang guru bagi penerus bangsa generasi emas di Indonesia.
Makna dari penelitian dan pengabdian bagi mahasiswa dapat diambil contohnya saat mahasiswa semester akhir menyelesaikan skripsi. Tugas akhir ini yang menuntut mahasiswa untuk meneliti hal-hal yang diangkat dari judul skripsi tersebut. Butuh pengorbanan dari segi materi maupun fisik dalam penelitian ini, di saat banyak mahasiswa lain sibuk dengan kegiatannya, kita justru berkutat dengan studi kasus yang diangkat. Selain itu ilmu pengetahuan juga ada perkembangan seperti ditemukannya energi alternatif untuk bahan bakar kendaraan. Tetapi karena kurangnya perhatian dari pemerintah, pengembangan ilmu pengetahuan ini menjadi tidak berkembang. Contoh dari pengembangan penelitian mahasiswa yaitu Mobil Listrik yang dibuat oleh Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta dan mempunyai prestasi di tingkat Nasional maupun Internasional.
Selain itu pengembangan dari ilmu pengetahuan juga tergantung dari aktifnya seorang mahasiswa dalam penelitiannya terhadap suatu kasus yang diselidikinya. Jika dalam ilmu kealaman seperti biologi dan kimia sudah pasti banyak penemuan baru yang diakui oleh para ilmuwan. Tetapi dalam ilmu sosial juga ditemukan penemuan baru, khususnya di bidang arkeologi yang saat ini telah menemukan candi yang berumur ratusan tahun dan terkubur oleh tanah saat bencana meletusnya gunung Merapi. Bisa saja apabila ditemukan sumber tertulis baru yang ditemukan oleh mahasiswa Indonesia berumur lebih tua daripada Prasasti Yupa di pulau Kalimantan, akan menjadi patokan bahwa rakyat Indonesia memasuki zaman sejarah sebelum abad 5 Masehi. Hal ini akan menjadi sejarah baru yang ditorehkan oleh mahasiswa, karena para ilmuwan yang notabene mempunyai gelar Profesor maupun Doktor akan bangga dengan penemuan ini.
Tri dharma yang ketiga adalah pengabdian pada masyarakat, hal inilah yang sudah diterapkan oleh perguruan Tinggi di Indonesia. Dengan program Kerja Kuliah Nyata (KKN), mahasiswa menjadi dekat dan mengetahui keadaan masyarakat yang jauh dari modernisasi kehidupan sekarang. Mahasiswa bergotong royong membangun desa tersebut untuk kemajuan kehidupan masyarakat sesuai dengan bidang jurusan saat mereka kuliah. Ada yang membangun sanitasi desa, mengadakan pengajian untuk masyarakat, sampai membuat inventaris desa seperti lapangan voli, dll. Dari beberapa contoh tadi sudah banyak menngambarkan bahwa Tri Dharma Perguruan Tinggi telah menyeluruh dari semua segi kehidupan. Sudah saatnya kita sebagai mahasiswa Indonesia memajukan sistem pendidikan di negara kita sesuai dengan corak budaya kita.
Di era modern seperti ini banyak sekali pengabdian mahasiswa kepada masyarakat yang telah dilakukan. Menjadi seorang mahasiswa tidak hanya kuliah,kuliah,dan kuliah. Tetapi bagaimana kita sebagai mahasiswa bisa menjadi sosok pembangun masa depan bangsa yang menjadikan Indonesia lebih maju dari negara lain. Sudah banyak pemimpin-pemimpin bangsa yang sukses memimpin negara ini dengan menerapkan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Saat sekarang inilah masa keemasan generasi bangsa yang harus dikembangkan. Saya rasa saat ini banyak perguruan tinggi yang sudah menerapkan Tri Dharma PT untuk pelaksanaan kegiatan kuliah.

Selasa, 09 Juni 2015

Pemahaman Dasar Mahasiswa akan Tri Dharma Perguruan Tinggi


Oleh: Hanifah Rahma  Dwianti

            Tri dharma perguruan tinggi diambil dari bahasa sansekerta. “Tri” yang artinya tiga dan “Dharma” yang artinya kewajiban. Jika dijabarkan secara istilah tri dharma perguruan tinggi adalah suatu asas yang dipegang oleh setiap perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta yang ada di Indonesia. Dari arti perkata tersebut mungkin kita bisa mengetahui arti dari tri dharma perguruan tinggi itu sendiri namun pemahaman akan maknanya masih perlu ditelusuri lebih dalam.
Tri dharma perguruan tinggi merupakan dasar pola pikir dan menjadi kewajiban bagi mahasiswa sebagai kaum intelektual negara ini, tanggung jawab yang dipikul oleh mahasiswa tertuang dalam tri dharma perguruan tinggi karena mahasiswa memiliki posisi penting sebagai pejuang terdepan dalam perubahan bangsa kita ke arah yang lebih baik. Pernyataan ini menjadi terbukti ketika kita melihat sejarah bangsa ini dimana sebagian perubahan besar yang ada di negara ini dimulai oleh mahasiswa, dalam hal ini pemuda-pemudi Indonesia. Yang dimana Tri Dharma perguruan tinggi mencakup tiga hal penting yang harus dikembangkan, yaitu pendidikan, penelitian dan pengembangan serta pengabdian masyarakat. Tiga hal ini saling berkaitan antara satu sama lain sehingga harus diterapkan secara bersamaan. Masing-masing mempunyai memiliki tugas dan fungsi yang sama dan saling menunjang sehingga tidak bisa dipisahkan dalam pelaksanaannya. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa perguruan tinggi berkewajiban menyelenggarakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Pasal 20 Ayat 2).
Tri dharma perguruan tinggi sebagai salah satu pondasi dan dasar tanggung jawab yang dipanggul mahasiswa sebagai bagian dari perguruan tinggi yang harus dikembangkan secara nyata dan bersama-sama. Sebagai mahasiswa, perlu mengetahui dan menyadari salah satu pedoman untuk melaksanakan tanggung jawabnya dalam rangka menjawab tantangan negara dan bangsa Indonesia di masa depan.
Akan tetapi tidak sedikit mahasiswa yang tidak mengerti tentang apa sesungguhnya tanggungjawab mereka sebagai mahasiswa. Banyak dari mereka yang belum mengetahui apa itu tri dharma perguruan tinggi. Lalu apa yang menjadi dasar para mahasiswa ini bertindak? Sehingga tidak sedikit juga mahasiswa yang hingga saatnya lulus, mereka tidak tahu arah kemana hendak melangkah. Padahal, peran mahasiswa dalam aktualisasi tri dharma perguruan tinggi sangat di perlukan. Karena mahasiswa diharapkan untuk menjadi mahasiswa yang lebih termotivasi dan sadar bahwa betapa pentingnya peranan kita sebagai mahasiswa untuk mencapai tujuan nasional bangsa Indonesia yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945 yaitu “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”. Maka dari itu diperlukan pemahaman yang mendalam bagi mahasiswa untuk mengerti betul mengenai arti dan makna dari tiga hal penting dalam tri dhharma perguruan tinggi untuk dapat membentuk dasar pola pikir mereka sebagai mahasiswa yang merupakan agen perubahan yang sangat diperlukan untuk membawa negara ini ke arah yang lebih baik, apalagi melihat kondisi negara sekarang yang semraut dengan berbagai masalah yang seakan tidak pernah usai, maka disinilah seharusnya peran mahasiswa ditunjukkan sebagai kaum intelektual bangsa untuk mengambil bagian dalam menyelesaikan masalah-masalah yang ada.
            Dari tiga hal yang tertanam dalam tri dharma perguruan tinggi, mahasiswa harusnya mengerti arti dan makna dari tiap hal tersebut, tidak hanya itu mahasiswa juga harus bisa mengerti keterkaitan antar ketiganya dan tahu bagaimana cara mengimplementasikannya di dunia nyata, yang tentunya kemudian harus dipraktekan secara nyata. Jadi tri dharma perguruan tinggi ini tidak hanya menjadi pengetahuan dan menjadi pola pikir saja melainkan bisa diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara oleh para kaum intelektual muda. Mari kita tinjau ketiga tri dharma tersebut.
Yang pertama adalah pendidikan. Pendidikan dan mahasiswa merupakan satu kesatuan yang selalu terkait. Sebagai kaum intelektual, kualitas diri dalam hal pendidikan harus terus ditingkatkan supaya mutu bangsa Indonesia juga bertambah berdasarkan ilmu yang dipelajari selama jenjang pendidikan didunia kampus.
Selama mahasiswa belajar di perguruan tinggi, mahasiswa mendapatkan berbagai macam ilmu. Ilmu yang didapat berasal dari sumber yang berbeda, mulai dari apa yang diajarkan oleh dosen maupun berdasarkan pengalaman masing-masing. Tapi dalam kehidupan sosial harus ada yang namanya proses give and take.Karena itu, mahasiswa yang telah menjalankan masa studinya di perguruan tinggi dituntut untuk mentransfer ilmu-ilmunya kepada masyarakat.
Yang kedua adalah penelitian dan pengembangan. Sebuah artikel tidak akan menjadi artikel jika kita hanya mengarangnya saja dan tidak menulisnya dalam bentuk kalimat. Begitu juga dengan ilmu. Sebuah ilmu tidak akan terpakai jika tidak diaplikasikan dalam wujud nyata. Penelitian dan pengembangan merupakan bentuk implementasi dari ilmu pengetahuan yang diperoleh semasa proses pendidikan di perguruan tinggi. Dengan penelitian, para mahasiswa akan bertambah cakap dalam disiplin ilmunya, serta akan menjadi semakin paham.
Mahasiswa yang telah melakukan penelitian diharuskan untuk mengembangkan dan menerapkannya dengan harapan akan berguna bagi masyarakat di kemudian hari. Ilmu yang mereka kuasai melalaui proses pendidikan di perguruan tinggi harus diimplementasikan dan diterapkan. Salah satunya dengan langkah ilmiah, seperti melalui penelitian. Penelitian mahasiswa bukan hanya akan mengembangkan diri mahasiswa itu sendiri, namun juga memberikan manfaat bagi kemajuan peradaban dan kepentingan bangsa kita dalam menyejahterakan bangsa. Selain pengembangan diri secara ilmiah dan akademis. Mahasiswa pun harus senantiasa mengembangkan kemampuan dirinya dalam hal softskill dan kedewasaan diri dalam menyelesaikan segala masalah yang ada. Mahasiswa harus mengembangkan pola pikir yang kritis terhadap segala fenomena yang ada dan mengkajinya secara keilmuan.
Yang ketiga adalah pengabdian pada masyarakat. Pengabdian masyarakat adalah aktivitas-aktivitas yang dilakukan untuk masyarakat dan langsung dapat dirasakan manfaatnya. Mahasiswa-mahasiswa lulusan perguruan tinggi sengaja dipersiapkan untuk mengabdi pada masyarakat dengan dibekali ilmu-ilmu yang cukup. Hal itu dilakukan agar terjadi kontribusi antara perguruan tinggi dengan masyarakat. Dari sini diharapkan masyarakat akan memberikan imbalan pada perguruan tinggi yang dapat membantu perguruan tinggi dalam mengembangkan dunia pendidikan dan teknologi.
Pada dasarnya, pengabdian masyarakat bertujuan membantu masyarakat  agar mau dan mampu memenuhi kebutuhannya sendiri. Dengan kata lain, pengabdian masyarakat yang dilakukan mahasiswa melalui berbagai aktivitasnya harus mampu menghasilkan output berupa masyarakat yang lebih mandiri dengan memanfaatkan berbagai sumber daya yang ada. Sekarang ini berbagai organisasi mahasiswa disetiap perguruan tinggi sudah sangat aktif melakukan berbagai aktivitas pengabdian masyarakat seperti bina desa, pelatihan dan penyuluhan masyarakat desa, bimbingan belajar kepada anak-anak, dan berbagai aktivitas lainnya.
Tri dharma yang telah dijelaskan diatas sangat erat hubungannya, karena penelitian harus menjunjung tinggi kedua dharma yang lain. Penelitian diperlukan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan penerapan teknologi. Untuk dapat melakukan penelitian diperlukan adanya tenaga-tenaga ahli yang dihasilkan melalui proses pendidikan. Ilmu pengetahuan yang dikembangkan sebagi hasil pendidikan dan penelitian itu hendaknya diterapkan melalui Pengabdian pada masyarakat sehingga masyarakat dapat memanfaatkan dan menikmati kemajuan-kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut.        
Nah, setelah kita mengetahui makna dan keterkaitan dari ketiga tri dharma tersebut maka sudah saatnya lah kita sadar akan perlunya menerapkan tri dharma perguruan tinggi, karena itu adalah pedoman kita sebagai mahasiswa untuk melaksanakan tanggung jawab dalam mencapai cita-cita bangsa yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun masih banyak mahasiswa yang belum menyadari tentang pentingnya tri dharma perguruan tinggi. Kebanyakan dari mereka menganggap tri dharma tidak penting. Padahal kita bukan lagi seorang “siswa” tetapi sudah menjadi seorang “mahasiswa” yang merupakan generasi penerus bangsa. Tri dharma perguruan tinggi ada bukan hanya untuk dimaknai saja. Sebagai mahasiswa yang baik, kita juga harus melaksanakannya dengan sepenuh hati.  Lagi-lagi peran mahasiswa dalam hal ini sangat diperlukan sekali, karena tidak lain tidak bukan mahasiswa yang nantinya akan kembali ke masyarakat. Jika mahasiswa sejak awal sudah melakukan hal ini, nantinya mahasiswa tidak akan merasa asing lagi dengan keadaan masyarakat sekitar, karena merasa perlu menyesuaikan diri kembali.
Dengan berubahnya status kita dari “siswa” menjadi “mahasiswa”, prinsip tri dharma perguruan tinggi sudah mutlak menjadi tanggungjawab mahasiswa dalam penerapannya. Peran sebagai mahasiswa harus benar-benar dijalankan dalam menunjang perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia kedepannya. Menyadari penuh akan hal ini, seharusnya tidak ada lagi kata “malas” maupun pemikiran negatif lainnya yang membuat mahasiswa lupa atau tidak mau tau tentang tri dharma perguruan tinggi. Apabila tri dharma ini benar-benar dipahami secara mendalam dan diterapkan oleh mahasiswa maka akan banyak hasil-hasil positif yang bisa dirasakan langsung oleh banyak pihak dan juga bisa membawa negara ini kearah yang lebih baik serta bisa menjawab tantangan bangsa di masa depan ataupun mengatasi masalah negara kita yang terjadi saat ini.


Tri Dharma Perguruan Tinggi dan Realisasi Nyata Kehidupan Bangsa


Oleh:  Nadya Rizma Septiarini
S1 Akuntansi 2014
Berbicara mengenai Tri Dharma perguruan tinggi Indonesia, berarti membicarakan tujuan atau visi dari perguruan tinggi Indonesia. Tujuan atau visi yang telah di tetapkan oleh setiap perguruan tinggi tersebut dimaksudkan agar perguruan tinggi dapat melahirkan individu – individu (dalam hal ini adalah mahasiswa) yang memiliki rasa tanggung jawab dan ingin lebih bermanfaat terutama bagi bangsanya. Maka dari itu agar dapat mengemban tanggung jawabnya dengan baik, setiap mahasiswa wajib untuk mengetahui apa saja maupun apa makna yang mendasar dari Tri Dharma perguruan tinggi. Kata Tri Dharma dapat di definisikan sebagai tiga kewajiban. Tri Dharma mencakup Pendidikan, Penelitian dan pengabdian masyarakat.
Hal pertama dalam Tri Dharma adalah pendidikan. Pendidikan merupakan hal yang paling penting dalam kehidupan. Karena pendidikan dapat memanusiakan manusia. Sebuah pernyataan yang sarat akan makna. Aspek yang membuat seorang manusia berbeda dengan hewan adalah akalnya. Sedangkan akal seseorang dapat dipertajam dengan pendidikan. Seseorang yang berpendidikan tidak akan tersesat dalam kehidupan, kecuali mereka yang menafsirkan pendidikan tersebut dengan ego dan keserakahannya sendiri.
Hal kedua adalah penelitian. Penelitian merupakan aktivitas terpenting dalam pembelajaran. Baik ketika akan merumuskan sesuatu atau sebagai pendukukng atas suatu hal. Tanpa adanya penelitian, suatu hal akan sulit dibuktikan validitasnya dan tanpa ada validitas seseorang akan sulit percaya akan hal tersebut. Dengan penelitian, seseorang dapat menemukan hal baru atau membuktikan hal yang sudah ada untuk menjawab keresahan atau pertanyaan – pertanyaan yang muncul dalam benak masyarakat.
Hal yang ketiga adalah pengabdian masyarakat. Point terpenting yang sangat luas jika dituangkan kedalam berbagai macam kegiatan sebagai realisasi ide yang dimiliki oleh segenap mahasiswa Indonesia. Pengabdian masyarakat ibarat langkah nyata atau pengamalan atas ilmu atau pendidikan yang diemban mahasiswa ditambah dengan berbagai penelitian yang dilakukan. Sebuah pepatah Arab (Al-Mahfudzot) berbunyi “Al-ilmu bi laa amalin kasyajarin bi laa tsamarin “ yang bermakna bahwa sebuah ilmu tanpa pengamalan bagaikan pohon yang tidak berbuah. Pun dengan pengabdian masyarakat bagi mahasiswa. Mahasiswa yang tidak melakukan pengabdian masyarakat bagaikan mahasiswa yang tidak bermanfaat. Karena ilmu yang diperolehnya selama ini hanya dipendam dan ditujukan hanya untuk dirinya sendiri. Sedangkan kita tahu betul bahwa manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Berikut merupakan contoh kasus dari pendidikan yang dikutip dari megapolitan.kompas.com
JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Dewan Pembina Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Seto Mulyadi mengatakan, salah satu penyebab terjadinya kriminalitas yang menyeret pelaku anak usia dini dan remaja adalah kekacauan sistem pendidikan di Indonesia. "Sistem pendidikan kita sudah salah. Dari TK (taman kanak-kanak) sampai SD (sekolah dasar) anak-anak disuruh menghafal dan banyak PR (pekerjaan rumah). Memang cerdas mereka. Namun, jika cerdas, sedangkan ajaran moral dan etikanya minim, ya terjadi seperti kekerasan anak SD. Contoh kasus Renggo, tawuran, dan kekerasan seksual," ujar pria yang akrab disapa Kak Seto ini kepada Kompas.com, Senin (12/5/2014). 
Pemerhati anak tersebut menambahkan, pemerintah seyogianya mengembangkan satuan pola materi belajar di sekolah, dengan memberikan porsi 60 persen lebih untuk mengajarkan aspek kecerdasan etika, sementara sisanya adalah logika. "Sekarang, untuk apa anak-anak kita cuma bisa sekadar baca, tulis, dan hitung tetapi sikap kerja sama, menghargai sesama, santun, dan jujur tidak ditanam di diri si anak? Bagaikan mau membangun gedung, tetapi fondasinya tidak kokoh, ya bisa hancur," kata alumnus Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Seto memberi contoh, kasus-kasus negatif tersebut terjadi karena minimnya sosok keteladanan bagi anak dalam melakukan suatu tindakan. Oleh karena itu, mereka cenderung meniru hal yang salah dari lingkup eksternal, melalui media televisi, internet, lingkungan, dan sebagainya. Sebelumnya media memberitakan berbagai kasus kriminalitas yang menyeret sebagian besar anak usia dini dan remaja. Di antaranya adalah kasus penganiayaan siswa kelas V SD di Jakarta Timur dan tindakan bunuh diri siswi SMP di Tabanan, Bali. 
Ada pula kasus kekerasan seksual oleh Emon di Sukabumi, Jawa Barat; keterlibatan siswa dalam kekerasan tawuran antar-sekolah; menjamurnya remaja geng motor; jual diri remaja yang biasa disebut "cabe-cabean", dan masih banyak lainnya.”Sekali lagi saya sampaikan, sistem pendidikan harus segera ditata kembali. Dalam hal ini, pemerintah, yaitu kementerian yang berwenang, harus bertanggung jawab," imbuh Seto.
Dari kasus tersebut dapat disimpulkan bahwa menurut Ketua Dewan Pembina Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Seto Mulyadi, sistem pendidikan di Indonesia yang masih buruk merupakan pemicu utama terjadinya berbagai penyimpangan pada individu, terutama seluruh objek pendidikan.
Padahal jika dikaji kembali, pendidikan merupakan hal dasar yang paling penting dalam pembentukan karakter maupun dalam membentuk cara berpikir secara ideal dan rasional dilihat dari berbagai prespektif yang ada. Ketika yang salah adalah sistemnya, maka seluruh komponen pendidikan akan dipertanyakan keberhasilannya. Karena sistem merupakan hal utama yang mengatur jalannya konsep – konsep yang dirumuskan bagi objek pendidikan, yaitu murid maupun mahasiswa.
Selain itu, nihilnya kemajuan secara keseluruhan dan rendahnya moral yang dimiliki individu di Indonesia dapat dikatakan akibat rendahnya tingkat pendidikan masyarakat Indonesia itu sendiri. Berdasarkan data tahun 2013 dari bps.go.id, presentase Angka Partisipasi Murni (APM) dari SD/ MI sebesar 95,52%, SMP/MTs sebesar 73,73%, SMA/MA sebesar 54,12% sedangkan Perguruan Tinggi (PT) hanya 18,08%. Data – data tersebut menunjukkan trends yang menurun. Maka dapat disimpulkan bahwa mayoritas warga Indonesia baru dapat menikmati pendidikan SD/MI pada tingkat 95,52%, diluar efektif atau tidaknya pendidikan tersebut.
Padahal anggaran dana untuk pendidikan di Indonesia yang diatur oleh UUD 1945 adalah minimal sebesar 20% dari APBN. Namun sangat kontras dengan kenyataan yang ada di Indonesia. Sungguh ironi kondisi bangsa ini.

Atas permasalahan yang muncul tersebut, solusi yang dapat dihadirkan adalah optimalisasi penggunaan anggaran biaya untuk pendidikan warga Indonesia sebesar 20% dari APBN, transparansi atas penggunaan dana tersebut dan unggah ataupun laporkan secara berkala kepada khalayak sehingga semua orang tahu kemana saja aliran dana tersebut, selain itu pemerintah juga harus memerhatikan siapa sasaran dari pelaporan atau pertanggungjawaban atas pemakaian dana tersebut, kemudian pilih Sumber Daya Pengajar yang mumpuni untuk memperbaiki karakter dari objek pendidikan dan mengajak agar lebih berprestasi lagi.
Selain itu support dari segala pihak merupakan aspek yang tidak kalah penting dalam realisasi rencana tersebut. Karena tanpa adanya dukungan atau support dari berbagai pihak, dapat menjadi indikasi bahwa masyarakat tidak sependapat dengan keputusan pemerintah. Terlebih pemerintah bekerja untuk kepentingan masyarakat, sehingga ketika tidak ada dukungan maka untuk apa pemerintah bekerja. Toh tidak ada yang merasakan manfaatnya.
http://www.kompasiana.com/rznadya/tri-dharma-perguruan-tinggi-dan-realisasi-nyata-kehidupan-bangsa_557630e3117b612450abcee4

Minggu, 07 Juni 2015

Mahasiswa dan Tridharma Perguruan Tinggi


Oleh : Johan Dekrasi S. N
Akuntansi 2014

Secara umum sejarah pendidikan tinggi di Indonesia sebenarnya baru dimulai pada awal abad ke-20 ketika pemerintah kolonial Belanda mendirikan Technische Hogeschool (THS) di Bandung pada tahun 1920. Namun demikian cikal bakal pendidikan tinggi di Indonesia sudah disemai oleh pemerintah kolonial pada pertengahan abad ke-19 dengan didirikannya School tot Opleiding voor Indische Arsten (STOVIA), sebuah lembaga pendidikan dokter Jawa di Batavia. STOVIA meningkat menjadi lembaga pendidikan yang setara dengan pendidikan tinggi baru pada tahun 1902 dengan masa studi tujuh tahun dan lulusannya diberi gelar Inlandsche Arts (Dokter Bumiputera). Pada periode berikutnya didirikan pula Sekolah Hukum untuk golongan Bumiputra (Opleidingschool van Inlandsche Rechtkundigen) pada tahun 1909 di kota yang sama, dan sekolah dokter di Surabaya pada tahun 1913 yang diberi nama Nederlandsch Indische Arsten School (NIAS) dengan masa studi tujuh tahun. Dengan berdirinya STOVIA dan NIAS maka di Indonesia telah ada dua lembaga pendidikan tinggi bidang kedokteran yang dikelola oleh pemerintah kolonial. Adalah menarik mengapa cikal-bakal perguruan tinggi di Indonesia adalah lembaga pendidikan kedokteran bukan lembaga pendidikan teknik atau pendidikan hukum.
Terjadinya penggantian kekusaan penjajah dari Belanda ke Jepang membuat kedudukan dari perguruan tinggi semakin tidak menentu arah dan tujuan nya. Belanda yang mempunyai standar kurikulum yang telah dibuat dari masa penjajahannya di Indonesia dirubah kembali oleh pihak Jepang saat pergantian kekuasaan dengan menghilangkan seluruh peraturan dan ketetapan Belanda untuk seluruh bidang termasuk Pendidikan Tinggi.
Pada tanggal 1 April 1945, beberapa bulan menjelang Jepang bertekuk lutut, tokoh-tokoh Masjoemi berhasil merealisasikan pendirian Sekolah Tinggi Islam (STI) yang berkedudukan di Jakarta. STI merupakan perguruan tinggi swasta pertama yang didirikan oleh bangsa Indonesia. Pada masa-masa awal mahasiswa STI bukan hanya dari kalangan Islam saja, karena beberapa orang mahasiswa ternyata beragama Protestan. Pada saat yang bersamaan Pemerintah Republik Indonesia Indonesia yang berkedudukan di Yogyakarta juga menghidupkan kembali perguruan tinggi dengan mendirikan  Universitas Gadjah Mada pada tahun 1946 yang pada awalnya dikelola oleh sebuah yayasan yang diselenggarakan oleh beberapa tokoh pendidikan. De Nood-universiteit yang berganti nama menjadi Universitas Indonesia berdiri pada 1946.
Keterlibatan dunia perguruan tinggi pada setiap momen yang melibatkan masyarakat luas telah membuat pendidikan tinggi di Indonesia semakin memiliki bentuk dan menjadi lebih dikenal oleh masyarakat. Menyatunya perguruan tinggi dengan masyarakat kemudian dilembagakan dalam bentuk Tridharma Perguruan Tinggi, yang mencakup Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian kepada Masyarakat melalui Undang-undang No. 22 tahun 1961 tentang Perguruan Tinggi. Pelembagaan keterlibatan perguruan terhadap dinamika masyarakat diperkuat dengan jargon bahwa perguruan tinggi adalah agen perubahan(Agent of Change). Berkaca pada perjalanan sejarah lembaga tersebut, setiap perubahan besar di Indonesia sekurang-kurangnya melibatkan civitas academica
Di dalam kamus besar bahasa Indonesia kata Tri Dharma adalah kata dalam bahasa sangsekerta yang diIndonesiakan dengan arti Tri “tiga” kemudian Darma “kewajiban”  dengan demikian maka pengertian tri dharma perguruan tinggi adalah tiga kewajiban yang harus dijalankan oleh perguruan tinggi dalam mengelolah seluruh komponen yang ada di dalamnya (civitas akademika) baik itu tingkat negeri maupun Swasta Tujuan Tri Dharma Perguruan tinggi adalah :

1.         Dharma Pendidikan Pengajaran
Dharma Pendidikan Pengajaran adalah kegiatan yang mengutamakan proses ilmu pengetahuan baik bersifat teori maupun praktek di dalam lingkungan perguruan tinggi. Yang melibatkan Kurikulum, Sarana prasarana pendidikan, dosen, mahasiswa, pegawai administrasi dan lain sebagainya.

2.         Dharma Penelitian dan Pengembangan
Dharma Penelitian merupakan kegiatan dalam upaya menciptakan atau mengembangkan sesuatu pada bebrbagai aspek yang nantinya bermanfaat untuk masyarakat terutama untuk kemajuan bangkasa dan negara. Disini Mahasiswa harus kreatif, inovatif, aktif, dan kritis.

3.         Dharma Pengabdian Pada Masyarakat
Pengabdian kepada masyarakat pada hakikatnya membantu masyarakat agar masyarakat mau dan mampu memenuhi kebutuhannya sendiri. Namun tidak hanya sampai disitu saja, Mahasiswa sebagai agen dari perubahan juga merupakan salah satu perwakilan rakyat dalam memberikan aspirasi, kehidupan, dan masalah yang dihadapi masyarakat. sebagai penghubung antara pemerintah dan rakyat lebih tepatnya peran yang dipegang oleh mahasiswa. Ilmu yang dipelajarinya di perguruan tinggi nantinya akan diterapkan ke dalam pengabdian masyarakat. Karena uang dari masyarakat juga untuk memberikan perkuliahan kepada para mahasiswa karena melalui pajak pemerintah memberikan anggaran untuk Perguruan Tinggi yang sebaaimana mestinya diberikan kepada Mahasiswa melalui subsidi biaya pendidikan. Jadi memang seharusnya tugas mahasiswa mengabdi kepada masyarakat.

Pemaknaan pada implementasi kerja tri dharma perguran tinggi adalah bersifat menyeluruh dan tidak bersifat sepihak, dengan pengertian bahwa seluruh masyarakat yang berada di dalam perguruan tinggi (civitas akademika) wajib melaksanakan tri dharma perguruan tinggi teristimewa dosen dan mahasiswa.

MAHASISWA DAN TRIDHARMA PERGURUAN TINGGI



Alfi Fitri Yeni
EKONOMI & ADMINISTRASI
Adapun isi dari Tri Dharma Perguruan Tinggi adalah:

1. Pendidikan dan Pengajaran
Pendidikan dan pengajaran adalah point pertama dan utama dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. Pendidikan dan pengajaran memiliki peranan yang sangat penting dalam suatu proses pembelajaran. Pengertian pendidikan dan pengajaran disini adalah dalam rangka menerusakan pengetahuan atau dengan kata lain dalam rangka transfer of knowledge ilmu pengetahuan yang telah dikembangkan melaui penelitian oleh mahasiswa di perguruan tinggi. Dalam pendidikan tinggi dinegara kita dikenal dengan istialh strata, mulai dari strata satu(S-1) yaitu merupakan pendidikan program sarjana, strata dua(S-2) merupakan program magister dan strata tiga (S-3) yaitu pendidikan doktor dalam sutau disiplin ilmu,serta pendidikan jalur vokasional/non gelar(diploma).
 Undang – undang tentang pendidikan tinggi menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual kegamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, ahlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.
Dari pengertian pendidikan diatas maka proses pembelajaran yang ada di perguruan tinggi memiliki peranan penting untuk mencipkan bibit – bibit unggul. Pendidikan dan pengajaran yang baik akan menghasilkan bibit unggul dari suatu perguruan tinggi yang akan mampu membawa bangsa ini kearah bangsa yang lebih maju . lulusan – lulusan yang berkualitas dari perguruan tinggi akan menjadi penerus bangsa yang membawa Indonesia kearah yang lebih maju. Sesuai dengan pembukaan undang – udang dasar 1945 yang berbunyi, mencerdaskan kehidupan bangsa. Maka pendidikan dan pengajaran harus menjadi pokok dan sumber utama dalam mencapai tujuan dari perguruan tinggi.
2. Penelitian dan pengembangan
Kegiatan penelitain dan pengembangan mempunyai peranan yang sangat penting dalam rangka kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tanpa penelitain,m aka pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi akan menjadi terhambat. Penelitian ini tidaklah berdiri sendiri, akan tetapi harus dilihat keterkaitannya dalam pembangunan dalam arti luas. artinya penelitain tidak semata-mata hanya untuk hal yang diperlukan atau langsung dapat digunakan oleh masyarakat pada saat itu saja,akan tetapi harus dilihat dengan proyeksi kemasa depan. Dengan kata lain penelitian dipergurun tinggi tidak hanya diarahkan untuk penelitian terapan saja,tetapi juga sekaligus melaksanakn penelitian ilmu-ilmu dasar yang manfaatnya baru terasa penting artinya jauh dimasa yang akan datang.
Penelitian dan pengembangan juga sangatlah penting bagi kemajuan perguruan tinggi,kesejahteraan masyarakat serta kemajuan bangsa dan negara. Dari penelitian dan pengembangan maka mahasiswa mampu mengembangkan ilmu dan teknologi . pada penelitian dan pengembangan mahasiswa harus lebih cerdas, kritis dan kreatif dalam mejalankan perannya sebagai agent of change. Mahasiswa harus mampu memanfaatkan penelitian dan pengembangan ini dalam suatu proses pembelajaran untuk memporoleh suatu perubahan – perubahan yang akan membawa Indonesia kearah yang lebih maju dan terdepan.

3. Pengabdian pada masyarakat
Dharma pengabdian pada masyarakat harus diartiakan dalam rangka penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah dikembangkan di perguruan tinggi, khususnya sebagi hasil dari berbagai penelitian.Pengabdian pada masyarakat merupakan serangkaian aktivitas dalam rangka kontribusi perguruan tinggi terhadap masyarakat yang bersiafat konkrit dan langsung dirasakan manfaatnya dalam waktu yang relatif pendek. Aktivitas ini dapat dilakukan atas inisiatif individu atau kelompok anggota civitas akademika perguruan tinggi terhadap masyarakat maupun terhadap inisiatif perguruan tinggi yang bersangkutan yang bersifat nonprofit(Tidak mencari keuntungan). Dengan aktivitas ini diharapkan adanya umpan balik dari masyarakat ke perguruan tinggi, yang selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi lebih lanjut.
Menurut undang – undang tentang pendidikan tinggi, pengabdian kepada masyarakat adalah kegiatan sivitas akademika yang memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memajukan kesejahteraan masyarakat dan mencerdaskan kehidupan bangsa.
Pengabdian kepada masyarakan dapat dilakukan dengan berbagai kegiatan positif. Pada hal ini mahasiswa harus mampu bersosialisasi dengan masyarakat dan mampu berkontribusi nyata. Seperti yang kita ketahui selama ini bahwasannya mahasiswa adalah penyambung lidah rakyat, agent of change dan lainya. Maka dari itu mahasiwa haru mengetahui porsi dari tugas meraka masing – masing dalam mengabdi kepada masyarakat.
Ketiga faktor ini erat hubungannya, sebab penelitian harus menjunjung tinggi kedua dharma yang lain. Penelitian diperlukan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan penerapan teknologi. Untuk dapat melakukan penelitian diperlukan adanya tenaga-tenaga ahli yang dihasilkan melalui proses pendidikan. Ilmu pengetahuan yang dikembangkan sebagi hasil pendidikan dan penelitian itu hendaknya diterapkan melalui Pengabdian pada masyarakat sehingga masyarakat dapat memanfaatkan dan menikmati kemajuan-kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut.

Sabtu, 06 Juni 2015


Andi  Aditya  Hardinto
Akuntansi 2014
H.O.S TJOKROAMINOTO

TRI DHARMA PERGURUAN TINGGI
Tri dharma perguruan tinggi diambil dari bahasa sansekerta. “Tri” yang artinya tiga dan “Dharma” yang artinya kewajiban. Jika dijabarkan secara istilah tri dharma perguruan tinggi adalah suatu asas yang dipegang oleh setiap perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta yang ada di Indonesia.Setiap mahasiswa wajib dan bertanggung jawab dalam mewujudkan tri dharma tersebut. Tidak hanya mahasiswa saja, tetapi dosen-dosen yang mengajar pun wajib menjalankannya.

Tri Dharma perguruan tinggi merupakan tiga pilar dasar pola pikir dan menjadi kewajiban bagimahasiswa sebagai kaum intelektual di negara ini. Karena mahasiswa adalah ujung tombak perubahanbangsa kita ke arah yang lebih baik. Pernyataan ini menjadi terbukti ketika kita melihat sejarah bangsaini dimana sebagian perubahan besar yang ada di negara ini dimulai oleh mahasiswa, dalam hal inipemuda-pemudi Indonesia. Adapun Tri Dharma Perguruan tinggi itu sendiri meliputi




1.Pendidikan.

Mahasiswa sebagai kaum intelektual bangsa yang menduduki 5 persen dari populasi warga negaraIndonesia berkewajiban meningkatkan mutu diri secara khusus agar mutu bangsa pun meningkat padaumumnya dengan ilmu yang mereka pelajari selama pendidikan di kampus sesuai bidang keilmuantertentu. Mahasiswa dan pendidikan merupakan 1 kesatuan yang tidak dapat dipisahkan sehingga ketikamahasiswa melakukan segala kegiatan dalam hidupnya, semua harus didasari pertimbangan rasional,bukan dengan adu otot. Itulah yang disebut kedewasaan mahasiswa.

Selama mahasiswa belajar di perguruan tinggi, mahasiswa mendapatkan berbagai macam ilmu. Ilmu yang didapat berasal dari sumber yang berbeda, mulai dari apa yang diajarkan oleh dosen maupun berdasarkan pengalaman masing-masing. Tapi dalam kehidupan sosial harus ada yang namanya proses give and take.Karena itu, mahasiswa yang telah menjalankan masa studinya di perguruan tinggi dituntut untuk mentransfer ilmu-ilmunya kepada masyarakat.


2.Penelitian dan Pengembangan

Ilmu yang mereka kuasai melalaui proses pendidikan di perguruan tinggi harus diimplementasikan danditerapkan. Salah satunya dengan langkah ilmiah, seperti melalui penelitian. Penelitian mahasiswabukan hanya akan mengembangkan diri mahasiswa itu sendiri, namun juga memberikan manfaat bagikemajuan pperadaban dan kepentingan bangsa kita dalam menyejahterakan bangsa. Selainpengembangan diri secara ilmiah dan akademis. Mahasiswa pun harus senantiasa mengembangkankemampuan dirinya dalam hal softskill dan kedewasaan diri dalam menyelesaikan segala masalah yangada. Mahasiswa harus mengembangkan pola pikir yang kritis terhadap segala fenomena yang ada danmengkajinya secara keilmuan.

Dalam hal ini.sebuah artikel tidak akan menjadi artikel jika kita hanya mengarangnya saja dan tidak menulisnya dalam bentuk kalimat. Begitu juga dengan ilmu. Sebuah ilmu tidak akan terpakai jika tidak diaplikasikan dalam wujud nyata. Mahasiswa yang telah melakukan penelitian diharuskan untuk mengembangkan dan menerapkannya dengan harapan akan berguna bagi masyarakat di kemudian hari.

3.Pengabdian pada Masyarakat

Mahasiswa menempati lapisan kedua dalam relasi kemasyarakatan, yaitu berperan sebagai penghubungantara masyarakat dengan pemerintah. Mahasiswa adalah yang paling dekat dengan rakyat danmemahami secara jelas kondisi masyarakat tersebut. Kewajiban sebagai mahasiswa menjadi  front line dalam masyarakat dalam mengkritisi berbagai kebijakan pemerintah terhadap rakyat karenasebagaian besar keputusan pemerintah di masa ini sudah terkontaminasi oleh berbagai kepentinganpolitik tertentu dan kita sebagai mahasiswa yang memiliki mata yang masih bening tanpa ternodaikepentingan-kepentingan serupa mampu melihat secara jernih, melihat yang terdalam dari yangterdalam terhadap intrik politik yang tidak jarang mengeksploitasi kepentingan rakyat. Disini mahasiswaberperan untuk membela kepentingan masyarakat, tentu tidak dengan jalan kekerasan danaksi
chaotic,namun menjunjung tinggi nilai-nilai luhur pendidikan, kaji terlebih dahulu, pahami, dansosialisasikan pada rakyat, mahasiswa memiliki ilmu tentang permasalahan yang ada, mahasiswa jugayang dapat membuka mata rakyat sebagai salah satu bentuk pengabdia terhadap rakyat
Mahasiswa-mahasiswa lulusan perguruan tinggi sengaja dipersiapkan untuk mengabdi pada masyarakat dengan dibekali ilmu-ilmu yang cukup. Hal itu dilakukan agar terjadi kontribusi antara perguruan tinggi dengan masyarakat. Dari sini diharapkan masyarakat akan memberikan imbalan pada perguruan tinggi yang dapat membantu perguruan tinggi dalam mengembangkan dunia pendidikan dan teknologi.

Namun masih banyak mahasiswa yang belum menyadari tentang pentingnya tri dharma perguruan tinggi. Kebanyakan dari mereka menganggap tri dharma tidak penting. Padahal kita bukan lagi seorang “siswa” tetapi sudah menjadi seorang “mahasiswa” yang merupakan generasi penerus bangsa. Tri dharma perguruan tinggi ada bukan hanya untuk dimaknai saja. Sebagai mahasiswa yang baik, kita juga harus melaksanakannya dengan sepenuh hati.


Mahasiswa dan Tridharma Perguruan Tinggi


Oleh: Rizki Sutikawati
Akuntansi 2014

Tri dharma perguruan tinggi diambil dari bahasa sansekerta. “Tri” yang artinya tiga dan “Dharma” yang artinya kewajiban. Jika dijabarkan secara istilah tri dharma perguruan tinggi adalah suatu asas yang dipegang oleh setiap perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta yang ada di Indonesia. Setiap mahasiswa wajib dan bertanggung jawab dalam mewujudkan tri dharma tersebut. Tidak hanya mahasiswa saja, tetapi dosen-dosen yang mengajar pun wajib menjalankannya.

Namun masih banyak mahasiswa yang belum menyadari tentang pentingnya tri dharma perguruan tinggi. Kebanyakan dari mereka menganggap tri dharma tidak penting. Padahal kita bukan lagi seorang “siswa” tetapi sudah menjadi seorang “mahasiswa” yang merupakan generasi penerus bangsa. Tri dharma perguruan tinggi ada bukan hanya untuk dimaknai saja. Sebagai mahasiswa yang baik, kita juga harus melaksanakannya dengan sepenuh hati. 

Perguruan tinggi sebagai lembaga pendidikan jenjang terakhir dari pendidikan formal, mengemban peran yang penting dalam ketatanegaraan suatu bangsa. Sebab pendidikan suatu bangsa berpusat pada lingkungan perguruan tinggi.

Proses perubahan peran pelajar dari masa sekolah menengah ke perguruan tinggi sangat signifikan, mahasiswa tidak lagi hanya terfokus pada pendidikannya saja, tetapi bagaimana mereka mengembangkan ilmunya juga sangat diperhitungkan di perguruan tinggi.

Tanggung jawab yang dipikul oleh mahasiswa tertuang dalam tri dharma perguruan tinggi. Karena mahasiswa memiliki posisi penting sebagai pejuang terdepan dalam perubahan bangsa Indonesia.

Tri dharma perguruan tinggi mencangkup tiga hal penting yang harus dikembangkan oleh para mahasiswa. Yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Ketiga hal ini saling berkaitan satu sama lain sehingga harus diterapkan secara bersamaan. Masing-masing mempunyai tugas dan fungsi yang sama dan saling menunjang sehingga tidak bisa dipisahkan dalam pelaksanaannya.

Peran mahasiswa dalam aktualisasi tri dharma perguruan tinggi sangat di perlukan. Karena mahasiswa diharapkan untuk menjadi mahasiswa yang lebih termotivasi dan sadar bahwa betapa pentingnya peranan kita sebagai mahasiswa untuk mencapai tujuan nasional bangsa Indonesia yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945 yaitu “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”. Mari kita tinjau ketiga tri dharma tersebut.

1.    Pendidikan
Dengan pendidikan, mahasiswa hendaknya punya dasar berpikir yang benar dalam memutuskan berbagai hal di dunia kampus maupun luar kampus. Dan seharusnya mahasiswa mempunyai hak untuk memperoleh pendidikan yang layak dan sesuai, seperti dosen yang profesional, serta pendidikan softskill. Tapi apa terjadi sekarang, tidak sedikit mahasiswa yang merasa salah masuk jurusan, dan hal ini berdampak pada rendahnya minat untuk belajar lebih mendalam ilmu yang digelutinya.

2.    Penelitian
Merupakan bentuk implementasi dari ilmu pengetahuan yang diperoleh semasa proses pendidikan di perguruan tinggi. Dengan penelitian, para mahasiswa akan bertambah cakap dalam disiplin ilmunya, serta akan menjadi semakin paham.

Dengan penelitian juga mahasiswa nantinya akan menemukan berbagai hal yang baru, sehingga dapat memperkaya penguasaan ilmunya. Hasil penelitian itu pula, nantinya akan sangat bermanfaat bagi pengembangan disiplin ilmunya.

3.    Pengabdian masyarakat
Pengabdian masyarakat bertujuan untuk membantu masyarakat agar mau dan mampu memenuhi kebutuhannya sendiri. Seperti bina desa, pelatihan dan penyuluhan masyarakat desa, bimbingan belajar pada anak-anak, bakti sosial, KKN-PPL dan lain sebagainya.

Lagi-lagi peran mahasiswa dalam hal ini sangat diperlukan sekali, karena tidak lain tidak bukan mahasiswa yang nantinya akan kembali ke masyarakat. Jika mahasiswa sejak awal sudah melakukan hal ini, nantinya mahasiswa tidak akan merasa asing lagi dengan keadaan masyarakat sekitar, karena merasa perlu menyesuaikan diri kembali.

Permasalahan yang terjadi, Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki kemajuan yang tidak merata. Kawasan Indonesia bagian barat lebih mengalami kemajuan yang lebih pesat dibandingkan dengan kawasan Indonesia bagian timur. Dengan adanya tridharma yang menjadi tanggungjawab dari para mahasiswa dapat menciptakan kemajuan Indonesia yang merata dalam segi pembangunan ekonomi, pendidikan, dan sumber daya manusia.

Mahasiswa dengan tingkat intelektual yang tinggi dapat menggunakan daya pikirnya untuk kemajuan masyarakat. Mahasiswa memiliki tanggung jawab pendidikan dalam tridharma, mahasiswa dapat membagi ilmu mereka untuk anak-anak Indonesia yang mengalami kesulitan dalam menuntut ilmu. Dengan ilmu yang mereka berikan kepada masyarakat di daerah terpencil dapat membantu dalam pemerataan pendidikan di Indonesia. Sehingga setiap warga negara Indonesia dapat merasakan pendidikan.

Hal konkrit lainnya yang dapat dilakukan oleh mahasiswa adalah dengan pengabdian masyarakat, mahasiswa terjun ke masyarakat untuk memberikan pembinaan kepada masyarakat setempat. Dengan adanya pembinaan tersebut maka mahasiswa dapat meningkatkan kualitas dan produktivitas dari masyarakat di suatu daerah. Dengan demikian mahasiswa harus rajin untuk terjun ke masyarakat untuk membagi ilmu yang mereka miliki guna mewujudkan cita-cita dan kemajuan bangsa Indonesia. 

Mahasiswa dan Tridharma Perguruan Tinggi

 Oleh: Ulfa Giny Septianingrum
Akuntansi 2013

Perguruan tinggi merupakan salah satu bagian dari pendidikan nasional. Keberadaan perguruan tinggi dalam suatu Negara berperan sangat penting, salah satu peranannya yaitu melalui Tridharma perguruan tinggi, yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat. Tridharma perguruan tinggi sendiri tercantum dalam Undang Undang Nomor 20 tahun 2003 yaitu tentang Sistem Pendidikan Nasioanal menyebutkan bahwa perguruan tinggi berkewajiban menyelenggarakan pendidikan, penelitian dan penngabdian kepada masyarakat.

Kesadaran mahasiswa dalam melaksanakan tridharma perguruan tinggi masih rendah. Masih banyak mahasiswa yang acuh terhadap peranannya yang begitu besar dalam mengubah bangsa ini. Sedangkan tridharma perguruan tinggi merupakan pondasi dan dasar tanggung jawab mahasiswa terhadap apa yang telah di perolehnya dalam perguruan tinggi.

Kondisi Indonesia yang semakin memprihatinkan dengan begitu banyak permasalahan mulai dari kemiskinan sampai kasus korupsi, benar – benar sangat membutuhkan penggerak yang dapat mengubah Indonesia menjadi lebih baik. Tridharma perguruan tinggi merupakan tiga pilar dasar yang menjadi kewajiban mahasiswa sebagai kaum intelektual di negeri ini, karena mahasiswa adalah ujung tombak dalam perubahan bangsa Indonesia. Jika kita melihat kebelakang yaitu pada saat reformasi, disanalah mahasiswa membuktikan bahwa nasib bangsa Indonesia berada di pundak generasi muda khususnya mahasiswa yang mempunyai kewajiban dalam hal ini.

Seperti yang telah kita ketahui bersama, tridharma perguruan tinggi yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat.

1.      Pendidikan

Mahasiswa harus mempunyai pemikiran yang maju terutama untuk bangsa dan Negara nya. Pemikiran seperti ini juga harus diterapakan dalam kehidupan sehari – hari sebagai mahasiswa baik itu di dalam kampus maupun diluar kampus. Mahasiswa sebagai kaum intelektual bangsa menduduki hanya 5% dari populasi warga Negara Indonesia, oleh karena itu mahasiswa berkewajiban untuk meningkatkan mutu diri secara khusus agar mutu bangsa ini dapat meningkat pula dengan ilmu pengetahuan yang mahasiswa pelajari selama pendidikan di kampus sesuai dengan bidang keilmuannya masing – masing. Mahasiswa dan pendidikan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat terpisahkan, setelah mahasiswa mendapatkan pengetahuan dari para dosen, kewajiaban mahasiswa selanjutnya adalah membagikan serta meneruskannya kepada yang lain bisa melalui penelitian oleh mahasiswa itu sendiri yang mungkin akan berguna di kehidupan masyarakat banyak.


2.      Penelitian

Tak jauh berbeda dengan tridharma pendidikan, penelitian pun juga sangat berperan penting bagi bangsa ini yang dapat dilakukan oleh mahasiswa. Banyak penelitian – penelitian yang dapat dilakukan mahasiswa dan sering kali kita lakukan karena tugas perkuliahan. Penelitian sangat berperan dalam hal perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Penelitian ini perlu dukungan dari pemerintah, karena kebanyakan penilitian memerlukan dana yang besar serta dukungan dari banyak pihak yang terkait, setelah penelitian itu dilakuakan hal selanjutnya yang tak kalah penting adalah merealisasikannya yang juga membutuhkan dana yang tak sedikit. Oleh karena itu, penelitian ini haru benar- benar mendapatkan dukungan dari berbagai pihak khususnya pemerintah.

3.      Pengabdian masyarakat

Mahasiswa merupakan penghubung antara masyarakat dan pemerintah, karena mahasiswa adalah yang paling dekat dengan masyarakat juga mengerti dengan keadaan dan kondisi masyarakat tersebut. Kewajiban mahasiswa sebagai perantara serta mengkritisi kebijakan – kebijakan pemerintah yang tidak mementingkan rakyat banyak karena mungkin saja keputusan yang diambil dari kebijakan tersebut sudah berbau kepentingan politik yang tidak lagi melihat kepentingan rakyat banyak. Dalam hal ini mahasiswa berperan untuk membela kepentingan masyarakat dengan tidak melakukan kekerasan atau aksi yang ricuh, namun menjunjung tinggi nilai nilai luhur pendidikan yang telah diemban oleh mahasiswa itu sendiri. Mahasiswa harus terlebih dahulu mengkaji serta memahami permasalahan yang ada untuk dapat membantu menuntut keadilan bagi rakyat kecil.

Tridharma perguruan tinggi tersebut diatas sangat erat hubungannya, karena untuk mengaplikasikan satu dari tridharma tersebut harus didukung dengan kedua tridharma yang lain. Sebagai contoh, penelitian diperlukan untuk perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sedangkan untuk melakukan penelitian itu membutuhkan adanya tenaga ahli dalam bidang pendidikan dan hal ini di dapatkan dengan proses pendidikan. Ilmu pengetahuan yang telah diperoleh dari hasil penelitian tersebut hendaknya diterapkan melalui pengabdian masyarakat sehingga kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut dapat bermanfaat dan dapat dinikmati bagi masayarakat banyak.

Salah satu kasus yang sedang banyak diperbincangkan saat ini serta berkaitan pula dengan tridharma perguruan tinggi adalah wacana skripsi tak lagi diwajibkan sebagai kelulusan bagi S1. Skripsi yang termasuk dalam tridharma perguruan tinggi yaitu penelitian akan dikaji konteks serta tujuannya mengingat bahwa banyak kecurangan yang terjadi seperti dalam pembuatan ijazah palsu, sehingga tak sedikit mahasiswa yang membeli skripsi layaknya hukum ekonomi, ada permintaan dan penawaran.

Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir mengatakan bahwa pembuatan skripsi ke depannya hanya akan menjadi sebuah pilihan persyaratan dalam menyelesaikan studi S1, tujuannya adalah untuk mengatasi kecurangan yang sampai saat ini menjadi masalah di perguruan tinggi dalam pembuatan skripsi.

Menurut Nasir, kebijakan skripsi yang tidak dijadikan sebuah kewajiban telah ada dalam peraturan menteri tahun 2000 dimana mengenai kebijakan skripsi hanya dijadikan pilihan. Namun, sejauh ini baru Universitas Indonesia (UI) yang menerapkan skripsi sebagai opsional kelulusan S1.

Dalam kasus ini, banyak mahasiswa yang gagal menyelesaikan kuliah dikarenakan mendapat kesulitan dalam membuat skripsi. Bagi sebagian orang, skripsi menjadi momok yang menakutkan untuk dihadapi, karena tidak sedikit mahasiswa yang gagal dalam menyelesaikan skripsi ini. Namun, disisi lain skripsi dapat sangat bermanfaat khususnya bagi penelitian yang dapat memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat banyak. Karena didalam skripsi itu sendiri terdapat rumusan masalah dan solusi dari masalah itu sendiri. Adapun permasalahan yang terjadi adalah seberapa banyak skripsi yang dapat menghasilkan keuntungan atau manfaat bagi masyarakat sehingga skripsi tersebut tidak hanya tersimpan rapih dalam perpustakaan kampus? Proses yang panjang dalam menyelesaikan skripsi tak sebanding dengan hasil yang diberikan.

Pemerintah harus segera mengkaji permasalahan yang sering terjadi berkaitan dengan skripsi ini. Segala bentuk kecurangan yang telah diketahui keberadaanya seharusnya dapat dijadikan pertimbangan pemerintah untuk memutuskan apakah skripsi ini benar – benar dijadikan opsi ataukah memang wajib bagi seluruh perguruan tinggi. Tak hanya soal kecurangan yang melanda, skripsi yang telah dibuat dengan proses yang tidak sebentar harus juga dipertimbangkan, melihat dari kebermanfaatan bagi masyarakat banyak. Jikalau memang keputusannya adalah skripsi adalah sebuah opsi bagi kelulusan S1, maka harus di tegaskan dan diseragamkan bagi seluruh perguruan tinggi di Indonesia, agar tidak terjadi ‘kecemburuan sosial’ diantara mahasiswa.